3. Tempat dan Wardrobe
Sekarang bergayalah, jadilah sutradara yang rewel, detail dan perfeksionis, pakailah topi pelukis kalau punya.
Kita mulai dengan konsep sederhana saja, kita ingin mendapatkan sebuah foto yang dramatikal, seorang guru sebuah sekolah di desa yang pemalu dikunjungi pacarnya di tempat Ia mengajar. Pertama, kita singkirkan jam tangan Hoops dari tangannya, dan jangan berfoto dengan latar belakang rak makanan ringan di Seven Eleven.
Kamu mengerti maksudku?
Pemikiran penonton mulai dari sini, dari sebuah tempat. Mari kita tonton beberapa awalan film-film yang mana saja, hampir semuanya dimulai dengan menampilkan latar belakang tempat diikuti suasana zaman yang ditunjukkan dengan model bangunan, gaya berpakaian, kendaraan dan lain-lain, ini penting untuk memberikan penonton memahami kapan cerita (baca: adegan dalam foto) itu terjadi.
Sialnya, kita harus memadatkan itu semua sekaligus dalam sekelebatan orang melihat karya kita. Tapi itu tantangannya!
Tempatlah yang menentukan jalan cerita, jika kita bermaksud membuat potret vintage, kita harus mencari lokasi pemotretan yang sesuai, mungkin restoran yang berkonsep jadul, bangunan bersejarah di kotamu yang tidak diperkenankan dirubuhkan oleh Pemerintah, atau rumah tetanggamu yang tidak sanggup merenovasi rumahnya sejak kemerdekaan negara ini diproklamasikan.
Tetapi tidak melulu pendekatan konsep dulu lokasi belakangan. Lebih sering terjadi adalah kita pergi ke satu tempat dan menemukan lokasi yang menarik untuk latar belakang foto kita. Berpikir cepatlah, kalau lokasinya pantai, kita beruntung kalau model kita sudah memakai bikini dari rumah, kita bisa langsung mulai dengan adegan model menyelamatkan diri dari dari tsunami atau serangan ikan hiu, tapi yang paling mudah adegan percakapan antara model dengan pacarnya, tidak apa-apa.. modelmu dengan bikininya saja sudah nilai lebih.
Kita juga dapat memanfaatkan acara-acara yang diselenggarakan oleh pihak lain misalnya karnaval, pertunjukan teater, penguburan jenderal, atau pertandingan sepakbola yang rusuh. Berhati-hati untuk penggunaan komersil, acara perayaan panen di sebuah kota kecil di Jawa Barat hak foto dan siarnya dimiliki oleh sebuah stasiun televisi, jadi singkirkan foto-foto ini dari etalase online kita sebelum kita menghadapi tuntutan milyaran.
4. Judul
Kamu terlanjur pergi ke Bali dan memotret model amatir dengan latar belakang matahari terbenam di Tanah Lot, lalu diberi judul “Sunset di Tanah Lot”.
Klise!
Saya punya quote yang bagus,”Kalau judulnya klise, afdruk saja di Fuji”.
Bahkan untuk karya cinematic photography dengan model pro (jelas bukan adikmu), adegan melarikan diri dari penjahat dengan tema futuristic, senjata laser, pakaian kru pesawat luar angkasa warna silver. Pemilihan judul yang salah akan membuat foto yang dahsyat sekalipun menjadi gagal.
Sebaliknya, foto sunset di Tanah Lot bisa jadi sedikit lebih kuat bila ditempelkan judul yang tepat, misalnya "Aliens Run" atau "Kurban ke 9" atau "The Leak".
Apa saja yang membawa orang membayangkan “Kemencekaman” dan “Ketegangan”, jadikan judul. Buatlah beberapa judul horor || hening || masih tidak terpikirkan? Coba search dan lihat judul film-film drama atau film hantu Indonesia. Jangan alergi dengan film Indonesia, ratusan judul film itu harta yang tak ternilai, mana kita tahu kombinasi satu kata dari judul satu film drama dengan kata lainnya dari judul satu film horor bisa tepat menggambarkan foto karyamu, coba saja.
Maksimalkan dengan Tehnik!
Beberapa teman menawarkan saya mengkritik karyanya, selain dari pacar, percayalah kritik dari orang lain itu merusak, saya benci acara Indonesia Idol dan sejenisnya yang penuh kritikan dan kekecewaan juri, kritik itu berbekas. Jangan merendahkan post fotomu, mintalah sanjungan! Tapi jangan cepat puas bila dipuji.
Saya memiliki jawaban standar untuk beberapa yang menanyakan pendapat apakah foto mereka sudah cinematic photography? Pahami saja tulisan ini, bagaimana sebuah foto cinematic photography melompat keluar itu seperti sesuatu muncul di atas air, batu tenggelam, tutup botol gabus mengambang. Seperti itulah cinematic photography yang bagus muncul begitu saja ke atas.
Ayo kita lihat foto-fotomu di layar laptop. Wow! Bahkan kamu sudah meletakkannya di flickr atau 500px.com. Saya sangat gembira, sudilah menuliskan alamat galerimu di kolom komentar di bawah agar kita semua bisa melihatnya.
Seni Foto (bergaya) Film
Blog semua tentang Cinematic Photography
Selasa, 27 Januari 2015
4 Unsur Menciptakan Cinematic Photography Impresif (Bag.1)
Ada yang menyukai es krim Haagen Daz, ada yang menyukai vaping, ada yang menyukai cinematic photography. Ya, ini masalah kesukaan, jangan dibuat rumit dengan genre dan klasifikasi yang ujung-ujungnya malah mengarahkanmu membeli lensa mahal, bukan memotret.
Begini saja, mintalah adikmu menjadi model. Pilihannya hanya 2, memerankan jadi korban kejahatan atau sebagai pelaku kejahatan, saya tidak akan menanggapi keberatanmu, ini foto film, bukan foto piknik, lagipula adikmu tidak keberatan jadi korban pembantaian boneka tedy yang memegang pisau dapur.
Kalau tujuan kita ingin membuat foto (bergaya) film yang berkesan, paling tidak ada 4 unsur penting dalam cinematic photography yang harus kita penuhi, setelah membaca ini kamu akan menulis komentar, ”sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan, ini sangat berharga, ini sangat membantu, terimakasih untuk berbagi, berapa nomor rekeningmu?” – omong kosong! Mari kita hemat waktumu, baca saja ini lalu pergi memotret dengan kameramu!
1. Model (dan Figuran)
Mungkin kamu mendapatkan tempat yang benar-benar menarik, bangunan tua, temboknya berlumut, ada bias cahaya matahari melewati jendela, sofa tua klasik dengan tutup kain putih berdebu tersingkap separuh, gang gelap dari koridor menuju kamar menimbulkan nuansa horor.
Kamu sangat bersemangat memotret semua sudut, tapi tanpa model manusia, kamu cuma dapatkan foto rumah yang akan dilelang.
Model dan figuran dalam cinematic photography itu mutlak, kamu membutuhkan sekurang-kurangnya 1, jika kamu bisa mendapatkan 2 orang kita akan membuatnya tampak bercakap-cakap, berpelukan, berciuman atau saling menodongkan senjata.
2. Adegan
Kamu sudah memiliki model, sekarang intinya: Ide adegan. Ada orang yang harus pergi ke perpustakaan, membuka buku motivasi atau buku filosofi untuk menemukan inspirasi, beberapa lainnya pergi ke karaoke, ada yang retreat ke Bali mencari Ide.
Demi Tuhan! Jika maksudmu mau memotret jangan membuang uang untuk membooking pemandu lagu, ini jadi mahal bagi pemula! Mari kita buat murah, bukalah youtube dan carilah thriller film yang pernah kamu tonton, mungkin Devils Advocate. Contek saja 2 atau 3 adegan dari film ini yang kamu pikir bisa kita potret dengan model yang ada dari angle yang sama.
Bila kita jeli, gambar dalam film itu hanya 6, serius 6! Beberapa lainnya hanya variasinya saja:
1. Bercakap-cakap, satu orang kelihatan wajahnya, lawan bicaranya kelihatan pundaknya.
2. Pergi ke satu tempat, berjalan kaki atau menaiki kendaraan.
3.
4.
5. Action! Bertanding, berkelahi, memukul, menembak, membunuh, dll.
6. Adegan bercinta, memeluk, kissing, dst.
Jadi gambar 3 dan 4 apa? Kenapa tidak kita temukan sendiri di film? Putar sebuah film, jangan menonton, tapi amati gambar demi gambar yang ditampilkan, gambar dalam film berangkat dari storyboard yang dibuat oleh tukang gambar khusus atau mungkin asisten sutradara.
Mereka berangkat dari sketsa dengan berpatokan 6 adegan inti. Saya mensyaratkanmu menonton 1 film saja untuk mengecek omong kosong saya!
Begini saja, mintalah adikmu menjadi model. Pilihannya hanya 2, memerankan jadi korban kejahatan atau sebagai pelaku kejahatan, saya tidak akan menanggapi keberatanmu, ini foto film, bukan foto piknik, lagipula adikmu tidak keberatan jadi korban pembantaian boneka tedy yang memegang pisau dapur.
Kalau tujuan kita ingin membuat foto (bergaya) film yang berkesan, paling tidak ada 4 unsur penting dalam cinematic photography yang harus kita penuhi, setelah membaca ini kamu akan menulis komentar, ”sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan, ini sangat berharga, ini sangat membantu, terimakasih untuk berbagi, berapa nomor rekeningmu?” – omong kosong! Mari kita hemat waktumu, baca saja ini lalu pergi memotret dengan kameramu!
![]() |
| "Menghadap Godfather" |
Mungkin kamu mendapatkan tempat yang benar-benar menarik, bangunan tua, temboknya berlumut, ada bias cahaya matahari melewati jendela, sofa tua klasik dengan tutup kain putih berdebu tersingkap separuh, gang gelap dari koridor menuju kamar menimbulkan nuansa horor.
Kamu sangat bersemangat memotret semua sudut, tapi tanpa model manusia, kamu cuma dapatkan foto rumah yang akan dilelang.
Model dan figuran dalam cinematic photography itu mutlak, kamu membutuhkan sekurang-kurangnya 1, jika kamu bisa mendapatkan 2 orang kita akan membuatnya tampak bercakap-cakap, berpelukan, berciuman atau saling menodongkan senjata.
2. Adegan
![]() |
| "1 miles to finish" |
Demi Tuhan! Jika maksudmu mau memotret jangan membuang uang untuk membooking pemandu lagu, ini jadi mahal bagi pemula! Mari kita buat murah, bukalah youtube dan carilah thriller film yang pernah kamu tonton, mungkin Devils Advocate. Contek saja 2 atau 3 adegan dari film ini yang kamu pikir bisa kita potret dengan model yang ada dari angle yang sama.
Bila kita jeli, gambar dalam film itu hanya 6, serius 6! Beberapa lainnya hanya variasinya saja:
1. Bercakap-cakap, satu orang kelihatan wajahnya, lawan bicaranya kelihatan pundaknya.
2. Pergi ke satu tempat, berjalan kaki atau menaiki kendaraan.
3.
4.
5. Action! Bertanding, berkelahi, memukul, menembak, membunuh, dll.
6. Adegan bercinta, memeluk, kissing, dst.
Jadi gambar 3 dan 4 apa? Kenapa tidak kita temukan sendiri di film? Putar sebuah film, jangan menonton, tapi amati gambar demi gambar yang ditampilkan, gambar dalam film berangkat dari storyboard yang dibuat oleh tukang gambar khusus atau mungkin asisten sutradara.
Mereka berangkat dari sketsa dengan berpatokan 6 adegan inti. Saya mensyaratkanmu menonton 1 film saja untuk mengecek omong kosong saya!
Langganan:
Postingan (Atom)

